Selasa, 28 Desember 2010

Keperawatan Indonesia

Mencari asuhan keperawatan (askep), lowongan pekerjaan ataupun info dunia keperawatan terkini, hanya ada di www.indonesiannursing.com

Jumat, 04 Januari 2008

PENINGKATAN PELAYANAN DAN PERAWATAN KESEHATAN MASYARAKAT

Sejauh ini pelaksanaan perawatan kesehatan masyarakat (puskesmas) sebagai salah satu program pokok puskesmas masih jauh dari kondisi ideal. Beberapa sebab yang melatar belakangi keadaan ini diantaranya masih rendahnya kualitas dan kuantitas sumberdaya perawat, adanya tugas rangkap, serta kurangnya sosialisasi dan pelatihan Perkesmas. Keadaan ini masih diperparah lagi dengan relative sulit dan berbelitnya pelaksanaan Perkesmas, belum lagi sistem pencatatan dan pelaporan yang cukup banyak membuat perawat merasa enggan untuk melaksanakannya. Oleh karena itu untuk memudahkan pencatatan dan pelaporan maka akan diadakan pelatihan Perkesmas. Diharapkan dengan adanya pelatihan tersebut nantinya akan meningkatkan motivasi perawat melaksanakan asuhan keperawatan.

Dalam asuhan keperawatan dilaksanakan pada keluarga rawan dan kasus-kasus yang paling sering ditemukan dalam masyarakat. Kasus yang dimaksud adalah keluarga rawan karena penyakit TB paru, kusta, hipertensi, ibu hamil beresiko, ibu hamil preeklamsia, ibu hamil anemia, balita KEP, neonatal BBLR, diare, rematik, asma dan diabetes mellitus.

Perawat sebagai pelaksana Perkesmas dapat mengembangkan sesuai dengan situasi dan kondisi setempat serta ketersediaan sarana dan prasarana, namun setidaknya perawat dapat memulai langkah awal pelaksanaan asuhan keperawatan keluarga yang masih tertinggal.

Kegiatan keperawatan yang ditunjang dengan peran serta masyarakat. Ditujukan untuk mencapai derajat kesehatan masayarakat yang optimal ditandai dengan adanya sikap kemandirian dari masyarakat menuju Indonesia Sehat 2010

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

Memasuki milenium baru Departemen Kesehatan telah mencanangkan Gerakan

Pembangunan Berwawasan Kesehatan, yang dilandasi paradigma sehat.

Paradigma sehat adalah cara pandang, pola pikir atau model pembangunan

kesehatan yang bersifat holistik, melihat masalah kesehatan yang dipengaruhi oleh

banyak faktor yang bersifat lintas sektor, dan upayanya lebih diarahkan pada

peningkatan, pemeliharaan dan perlindangan kesehatan. Secara makro paradigma

sehat berarti semua sektor memberikan kontribusi positif bagi pengembangan

perilaku dan lingkungan sehat, secara mikro berarti pembangunan kesehatan lebih

menekankan upaya promotif dan preventif tanpa mengesampingkan upaya kuratif

dan rehabilitatif.

Berdasarkan paradigma sehat ditetapkan visi Indonesia Sehat 2010, dimana ada 3

pilar yang perlu mendapat perhatian khusus, yaitu lingkungan sehat, perilaku

sehat dan pelayanan kesehatan yang bermutu, adil dan merata. Untuk perilaku

sehat bentuk konkritnya yaitu perilaku proaktif memelihara dan meningkatkan

kesehatan. mencegah risiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman

penyakit serta berpartisipasi aktif dalam upaya kesehatan.

Dalam mewujudkan visi Indonesia Sehat 2010 telah ditetapkan misi pembangunan

yaitu menggerakkan pembangunan nasional berwawasan kesehatan. mendorong

kemandirian masyarakat untuk hidup sehat. memelihara dan meningkatkan

pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau, serta memelihara dan

meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyaralat beserta lingkungannya.

Untuk melaksanakan misi pembangunan kesehatan diperlukan promosi kesehatan,

hal ini disebabkan program promosi kesehatan berorientasi pada proses

pemberdayaan masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat, melalui

peningkatan, pemeliharaan dan perlindungan kesehatannya. Hal ini sesuai dengan

yang ditekankan dalam paradigma sehat, dan salah satu pilar utama Indonesia Sehat

2010.

Seiring dengan cepatnya perkembangan dalam era globalisasi, serta adanya transisi

demografi dan epidemiologi penyakit, maka masalah penyakit akibat perilaku dan

perubahan gaya hidup yang berkaitan dengan perilaku dan sosial budaya cenderung

akan semakin kompleks. Perbaikannya tidak hanya dilakukan pada aspek pelayanan

kesehatan, perbaikan pada lingkungan dan merekayasa kependudukan atau faktor

keturunan, tetapi perlu memperhatikan faktor perilaku yang secara teoritis memiliki

andil 30 - 35 % terhadap derajat kesehatan.

Mengingat dampak dari perilaku terhadap derajat kesehatan cukup besar, maka

diperlukan berbagai upaya untuk mengubah perilaku yang tidak sehat menjadi sehat.

Salah satunya melalui program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Program Perilaku hidup Bersih dan Sehat (PHBS) telah diluncurkan sejak tahun 1996

oleh Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat, yang sekarang bernama Pusat

Promosi Kesehatan. Sebagai daerah model/laboratoriumnya adalah Kabupaten

Bekasi dan Kabupaten Tangerang, Provinsi Jawa Barat.

Berbagai kegiatan telah dilakukan untuk mencapai keberhasilan pelaksanaan

program PHBS, mulai dari pelatihan petugas pengelola PHBS tingkat Provinsi,

Kabupaten/Kota sampai dengan Puskesmas, memproduksi dan menyebarkan buku

Panduan Manajemen Penyuluh Kesehatan Masyarakat tingkat Provinsi, Kabupaten,

dan Puskesmas; memproduksi dan menyebarkan buku Pedoman Pembinaan

Program PHBS di tatanan rumah tangga, tatanan tempat umum, tatanan sarana

kesehatan, serta membuat buku saku PHBS untuk petugas puskesmas.

Hasilnya sampai tahun 2001 tenaga kesehatan yang telah terlatih PHBS tingkat

provinsi 100% (30 provinsi), 76% kabupaten/kota, 71.3% puskesmas. Pencapaian

klasifikasi III dan IV (1998) 38.89% tatanan rumah tangga, 50% institusi pendidikan,

33.3% tatanan tempat kerja, 35.3% tatanan tempat umum.

Masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan program PHBS adalah kemitraan/

dukungan lintas program/lintas sektor rendah, kemampuan teknis petugas rendah,

mutasi petugas terlatih, alokasi dana terbatas, perubahan struktur organisasi,

Indikator PHBS skala Nasional, indikator PHBS tatanan, pemetaan tatanan sehat,

pemetaan PHBS individu.

Altematif pemecahan adalah melalui kegiatan advokasi kebijakan, koordinasi dan

keterpaduan manajemen, peningkatan kemampuan teknis pelaksana PHBS,

menetapkan indikator PHBS individu skala nasional dan pembobotan, menetapkan

indikator PHBS tatanan, melakukan asistensi, pemetaan tatanan sehat serta PHBS

individu.

Berdasarkan masukan dari lapangan, salah satu altematif pemecahan masalah yang

perlu segera dilaksanakan adalah review buku Panduan Manajemen Penyuluhan

Kesehatan Masyarakat tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota dan Puskesmas yang

dikeluarkan tahun 1997, karena buku panduan tersebut sudah tidak cocok lagi

digunakan sebagai pedoman pelaksanaan pada era otonomi daerah. Untuk itu perlu

perbaikan mulai dari pengkajian sampai dengan pemantauan dan penilaian.

Tujuan disusunnya buku panduan ini untuk memberikan gambaran, arahan, acuan

bagi pengelola program PHBS, sehingga dapat melaksanakan tugas pekerjaan yang

terkait dengan pembinaan program PHBS dengan sebaik-baiknya, sehingga dapat

saling mengisi dan bekerjasama dalam melaksanakan program pembangunan

kesehatan.

B. PENGERTIAN

1. Perilaku Sehat

Adalah pengetahuan, sikap dan tindakan proaktif untuk memelihara dan mencegah

risiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit, serta berperan aktif

dalam Gerakan Kesehatan Masyarakat.

2. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

Adalah wujud keberdayaan masyarakat yang sadar, mau dan mampu mempraktekkan

PHBS. Dalam hal ini ada 5 program priontas yaitu KIA, Gizi, Kesehatan

Lingkungan, Gaya Hidup, Dana Sehat/Asuransi Kesehatan/JPKM.

3. Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

Adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu

kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat, dengan membuka

jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi, untuk meningkatkan

pengetahuan, sikap dan perilaku, melalui pendekatan pimpinan (Advokasi), bina

suasana (Social Support) dan pemberdayaan masyarakat (Empowerment). Dengan

demikian masyarakat dapat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri, terutama

dalam tatanan masing-masing, dan masyarakat/dapat menerapkan cara-cara hidup

sehat dengan menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatannya.

4. Tatanan

Adalah tempat dimana sekumpulan orang hidup, bekerja, bermain, berinteraksi dan

lain-lain. Dalam hal ini ada 5 tatanan PHBS yaitu Rumah Tangga, Sekolah, Tempat

Kerja, Sarana Kesehatan dan Tempat Tempat Umum.

5. Kabupaten Sehat/Kota Sehat

Adalah kesatuan wilayah administrasi pemerintah terdiri dari desa-desa, kelurahan.

kecamatan yang secara terus menerus berupaya meningkatkan kemampuan

masyarakat untuk hidup sehat dengan prasarana wilayah yang memadai, dukungan

kehidupan sosial, serta perubahan perilaku menuju masyarakat aman, nyaman dan

sehat secara mandiri.

6. Manajemen PHBS

Adalah pengelolaan PHBS yang dilaksanakan melalui 4 tahap kegiatan. yaitu 1).

Pengkajian, 2). Perencanaan, 3). penggerakkan pelaksanaan, 4). pemantauan dan

penilaian.

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

Memasuki milenium baru Departemen Kesehatan telah mencanangkan Gerakan

Pembangunan Berwawasan Kesehatan, yang dilandasi paradigma sehat.

Paradigma sehat adalah cara pandang, pola pikir atau model pembangunan

kesehatan yang bersifat holistik, melihat masalah kesehatan yang dipengaruhi oleh

banyak faktor yang bersifat lintas sektor, dan upayanya lebih diarahkan pada

peningkatan, pemeliharaan dan perlindangan kesehatan. Secara makro paradigma

sehat berarti semua sektor memberikan kontribusi positif bagi pengembangan

perilaku dan lingkungan sehat, secara mikro berarti pembangunan kesehatan lebih

menekankan upaya promotif dan preventif tanpa mengesampingkan upaya kuratif

dan rehabilitatif.

Berdasarkan paradigma sehat ditetapkan visi Indonesia Sehat 2010, dimana ada 3

pilar yang perlu mendapat perhatian khusus, yaitu lingkungan sehat, perilaku

sehat dan pelayanan kesehatan yang bermutu, adil dan merata. Untuk perilaku

sehat bentuk konkritnya yaitu perilaku proaktif memelihara dan meningkatkan

kesehatan. mencegah risiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman

penyakit serta berpartisipasi aktif dalam upaya kesehatan.

Dalam mewujudkan visi Indonesia Sehat 2010 telah ditetapkan misi pembangunan

yaitu menggerakkan pembangunan nasional berwawasan kesehatan. mendorong

kemandirian masyarakat untuk hidup sehat. memelihara dan meningkatkan

pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau, serta memelihara dan

meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyaralat beserta lingkungannya.

Untuk melaksanakan misi pembangunan kesehatan diperlukan promosi kesehatan,

hal ini disebabkan program promosi kesehatan berorientasi pada proses

pemberdayaan masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat, melalui

peningkatan, pemeliharaan dan perlindungan kesehatannya. Hal ini sesuai dengan

yang ditekankan dalam paradigma sehat, dan salah satu pilar utama Indonesia Sehat

2010.

Seiring dengan cepatnya perkembangan dalam era globalisasi, serta adanya transisi

demografi dan epidemiologi penyakit, maka masalah penyakit akibat perilaku dan

perubahan gaya hidup yang berkaitan dengan perilaku dan sosial budaya cenderung

akan semakin kompleks. Perbaikannya tidak hanya dilakukan pada aspek pelayanan

kesehatan, perbaikan pada lingkungan dan merekayasa kependudukan atau faktor

keturunan, tetapi perlu memperhatikan faktor perilaku yang secara teoritis memiliki

andil 30 - 35 % terhadap derajat kesehatan.

Mengingat dampak dari perilaku terhadap derajat kesehatan cukup besar, maka

diperlukan berbagai upaya untuk mengubah perilaku yang tidak sehat menjadi sehat.

Salah satunya melalui program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Program Perilaku hidup Bersih dan Sehat (PHBS) telah diluncurkan sejak tahun 1996

oleh Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat, yang sekarang bernama Pusat

Promosi Kesehatan. Sebagai daerah model/laboratoriumnya adalah Kabupaten

Bekasi dan Kabupaten Tangerang, Provinsi Jawa Barat.

Berbagai kegiatan telah dilakukan untuk mencapai keberhasilan pelaksanaan

program PHBS, mulai dari pelatihan petugas pengelola PHBS tingkat Provinsi,

Kabupaten/Kota sampai dengan Puskesmas, memproduksi dan menyebarkan buku

Panduan Manajemen Penyuluh Kesehatan Masyarakat tingkat Provinsi, Kabupaten,

dan Puskesmas; memproduksi dan menyebarkan buku Pedoman Pembinaan

Program PHBS di tatanan rumah tangga, tatanan tempat umum, tatanan sarana

kesehatan, serta membuat buku saku PHBS untuk petugas puskesmas.

Hasilnya sampai tahun 2001 tenaga kesehatan yang telah terlatih PHBS tingkat

provinsi 100% (30 provinsi), 76% kabupaten/kota, 71.3% puskesmas. Pencapaian

klasifikasi III dan IV (1998) 38.89% tatanan rumah tangga, 50% institusi pendidikan,

33.3% tatanan tempat kerja, 35.3% tatanan tempat umum.

Masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan program PHBS adalah kemitraan/

dukungan lintas program/lintas sektor rendah, kemampuan teknis petugas rendah,

mutasi petugas terlatih, alokasi dana terbatas, perubahan struktur organisasi,

Indikator PHBS skala Nasional, indikator PHBS tatanan, pemetaan tatanan sehat,

pemetaan PHBS individu.

Altematif pemecahan adalah melalui kegiatan advokasi kebijakan, koordinasi dan

keterpaduan manajemen, peningkatan kemampuan teknis pelaksana PHBS,

menetapkan indikator PHBS individu skala nasional dan pembobotan, menetapkan

indikator PHBS tatanan, melakukan asistensi, pemetaan tatanan sehat serta PHBS

individu.

Berdasarkan masukan dari lapangan, salah satu altematif pemecahan masalah yang

perlu segera dilaksanakan adalah review buku Panduan Manajemen Penyuluhan

Kesehatan Masyarakat tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota dan Puskesmas yang

dikeluarkan tahun 1997, karena buku panduan tersebut sudah tidak cocok lagi

digunakan sebagai pedoman pelaksanaan pada era otonomi daerah. Untuk itu perlu

perbaikan mulai dari pengkajian sampai dengan pemantauan dan penilaian.

Tujuan disusunnya buku panduan ini untuk memberikan gambaran, arahan, acuan

bagi pengelola program PHBS, sehingga dapat melaksanakan tugas pekerjaan yang

terkait dengan pembinaan program PHBS dengan sebaik-baiknya, sehingga dapat

saling mengisi dan bekerjasama dalam melaksanakan program pembangunan

kesehatan.

B. PENGERTIAN

1. Perilaku Sehat

Adalah pengetahuan, sikap dan tindakan proaktif untuk memelihara dan mencegah

risiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit, serta berperan aktif

dalam Gerakan Kesehatan Masyarakat.

2. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

Adalah wujud keberdayaan masyarakat yang sadar, mau dan mampu mempraktekkan

PHBS. Dalam hal ini ada 5 program priontas yaitu KIA, Gizi, Kesehatan

Lingkungan, Gaya Hidup, Dana Sehat/Asuransi Kesehatan/JPKM.

3. Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

Adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu

kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat, dengan membuka

jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi, untuk meningkatkan

pengetahuan, sikap dan perilaku, melalui pendekatan pimpinan (Advokasi), bina

suasana (Social Support) dan pemberdayaan masyarakat (Empowerment). Dengan

demikian masyarakat dapat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri, terutama

dalam tatanan masing-masing, dan masyarakat/dapat menerapkan cara-cara hidup

sehat dengan menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatannya.

4. Tatanan

Adalah tempat dimana sekumpulan orang hidup, bekerja, bermain, berinteraksi dan

lain-lain. Dalam hal ini ada 5 tatanan PHBS yaitu Rumah Tangga, Sekolah, Tempat

Kerja, Sarana Kesehatan dan Tempat Tempat Umum.

5. Kabupaten Sehat/Kota Sehat

Adalah kesatuan wilayah administrasi pemerintah terdiri dari desa-desa, kelurahan.

kecamatan yang secara terus menerus berupaya meningkatkan kemampuan

masyarakat untuk hidup sehat dengan prasarana wilayah yang memadai, dukungan

kehidupan sosial, serta perubahan perilaku menuju masyarakat aman, nyaman dan

sehat secara mandiri.

6. Manajemen PHBS

Adalah pengelolaan PHBS yang dilaksanakan melalui 4 tahap kegiatan. yaitu 1).

Pengkajian, 2). Perencanaan, 3). penggerakkan pelaksanaan, 4). pemantauan dan

penilaian.